Sabtu, 22 Agustus 2015

Ada Cinta Di Atas Cinta

Ada Cinta Di Atas Cinta
Handry Lumban Purba

Sore ini begitu cerah dan indah, sungguh aku iri pada keindahan yang aku tatap ini. Langit biru yang mulai gelap dengan awan berwarna orange memberiku kenyamanan tiada terkira. Membentang luas pesona langit menjadikan aku tetap kecil di bawah langit. Di sini aku masih duduk termanggu di sekitaran taman kampus yang tidak begitu indah. Memikirkan jalan keluar atas permasalahan yang aku hadapi. Dengan perut kosong yang sedari pagi tadi belum terisi nasi. Inikah rasanya kekurangan uang dan kekurangan sahabat. Aku memang banyak memiliki teman, namun apa guna banyak teman bila tiada sahabat yang sejati.

            “Jis, beli rokoklah, uangnya dari loe dulu nanti kalo udah dapet pinjeman, uangnya gua ganti” kataku kepada Ajis salah satu sahabatku sejak pertama kali masuk di kampus ini. Sejak siang selepas pulang kuliah aku bersama Ajis. Aku dan dia sering nongkrong bersama membicarakan bermacam-macam hal. Ajis yang sudah mengerti keadaanku saat ini pun tidak berlama-lama bergerak. Dia tahu apa yang harus dilakukannya, maka diapun bersiap membeli kopi hitam dan rokok secukup uang di kantongnya.

Pertama kali aku mengenal Ajis adalah saat ospek masuk ke Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung ini. Aku berkenalan dengannya sambil menawarkan kamar kost yang kosong di tempat aku tinggal. Ajis yang asli dari Majalengka ini pun tertarik dan akhirnya dia menjadi tetanggaku di Kosan Bosnia. Di kosan inilah aku dan dia belajar untuk saling memahami. Yang kemudian seiring berjalannya waktu, aku dan dia menjadi bersahabat.

Rokok dan kopi mempererat persahabatan kita, dan kali ini dialah yang sedang memiliki uang. Aku banyak bercerita kepada Ajis tentang segala rencana yang ada dalam benakku. Berharap aku bisa menemukan sesuatu yang positif dan berkaitan dengan rencana-rencanaku yang tertumpuk dalam pikiran. Yaa, walau aku tidak selalu yakin akan ada inspirasi yang keluar dari lidahnya. Tapi setidaknya Ajis adalah seorang sahabat yang bisa menjadi pendengar yang baik saat aku berbicara tentang segala macam khayalanku.

Tak lama Ajis datang dengan rokok gepe dan kopi dengan kap yang masih panas. “ini bos Handry, rokok dan kopinya tlah datang” ujarnya dengan logat sundanya yang kental. “beuh hatur nuhun pisan Jis, entar pasti diganti sama gua” jawabku karena merasa merepotkannya. Lalu duduklah Ajis di depanku dan mulai membuka topik pembicaraan baru, yakni membahas wanita. Dengan wajah yang sok dewasa dia membuka kembali lembaran lama yang ingin sekali aku lupakan. Entah apa maksud dan tujuannya membicarakan keadaanku setelah lebih dari tiga bulan aku putus dengan mantan pacarku.

Ajis mengingatkan kembali memori lama ketika aku masih bersama dengan mantan pacarku. Dia membandingkan sifat dan sikapku saat aku masih bersama Gilmi, Meycilya, Wilna dan Lia. Bagaikan peramal dia menebak-nebak diantara mereka berempat aku paling tidak bisa melupakan Gilmi walaupun Lia adalah cinta pertamaku ataupun Wilna, wanita yang terakhir putus denganku. Sedangkan Ajis menganggap Meycilya sangat tidak pantas untuk aku rindukan keberadaannya. Kata-kata Ajis yang secara panjang lebar ternyata mampu membuat kenangan manis bersama Gilmi muncul dengan tiba-tiba. Namun Berkenaan dengan itu juga kenangan buruk bersamanya ikut muncul kembali.

Memang tidak terelakkan aku dahulu begitu mencintainya lebih dari apapun. Dan perbedaan agama adalah alasan yang kuat bagi dirinya untuk lari dari kehidupanku yang sesungguhnya sudah sangat tulus untuk mencintainya. Gilmi memang wanita keparat yang bayangannya sangat sulit aku tumpas dari pikiranku.

“elu kenapa gak nyari cewek lagi aja ban? Siapa tahu kalo lu punya cewek disini, lu gak akan susah kayak gini lagi” ucap Ajis memecahkan suasana dengan memberikan saran kepadaku. “Ah, kapok gua pacaran mulu kalo ujung-ujungnya kaya yang udah-udah, tapi gak apa-apa sih kalo masih ada yang mau sama gua mah” balasku dengan iringan tawa.

Akhirnya pembicaraan ini menjadi terbatas seputar wanita saja bahkan hingga terlarut dalam alasan yang dibuat-buat. Mirisnya tanpa disadari efek dari pembicaraan ini menghasilkan pemikiran yang tidak aku inginkan. Kini aku mulai berpikir bahwa aku akan memulai lagi kisah cintaku dari nol. Lalu memulai menulis bait pertama pada halaman yang baru. “Oh, tidak.. ini tidak mungkin. Sepertinya yang aku butuhkan saat ini bukan wanita dan cinta namun uang” ungkapku dalam hati.



Obrolan asyik yang berlangsung lama sedari tadi seketika berhenti ketika suara azan maghrib terlantun menggetarkan alam kota Bandung yang sudah gelap bermahkotakan bulan sabit. Sepertinya aku harus pulang dan mulai merencanakan pergi ke kosan teman yang sekiranya bisa memberiku pinjaman uang. “ Ban sekarang lu mau kemana? Jadi lu minjem duit ke si Dodi?” “Iya gw mau ke Dodi dulu, mana tau dia bisa kasih pinjem duit ke gua”. Akhirnya kita pun bergegas ke kosan masing-masing, sebab aku dan dia memang sudah tidak tinggal satu kosan lagi sejak setahun yang lalu.

Dengan arah yang tepisah kami berjabat tangan dan beranjak ketujuan kami masing-masing. Arah yang aku tuju kini adalah kosan kawan sekelasku yaitu Dodi. Dodi ini adalah kawanku asli minang yang berasal dari Pariaman, Sumatera Barat. Akhir-akhir ini aku sering menginap di kamarnya dan sering bersamanya dalam urusan kegiatan kuliah di kampus. Kejenuhan di kamarku pun yang turut memberi dorongan agar aku mencari suasana baru. Alhasil Dodi dan kamarnya menjadi suasana baru itu. Semoga saat ini Dodi bisa memberikanku sedikit bantuannya untuk menyambung hidupku di Bandung ini.

Langkahku tidak gontai dan agak terburu-buru bagaikan sedang memburu sesuatu hal penting. Banyaknya pedagang kaki lima pun tidak mampu menggoyahkan niatku untuk bergegas sampai di kosan Dodi. Hanya harapan kecil yang ada dalam benakku. Yakni pinjaman uang untuk membungkam lantangnya jeritan lapar dari perutku.

Akhirnya aku pun telah sampai di halaman kosan kawanku. Tanpa beban, mataku langsung menatap tajam kearah tangga. Kosan Dodi memang bertingkat, Dodi tinggal di lantai dua dengan letak kamar paling pojok dan tergolong aman untuk menyembunyikan gadis buronannya. Maklum, kawanku yang satu ini memiliki hobi unik yang berkaitan dengan kaum hawa. Anak tangga pertama ku injak, lalu seterusnya dan seterusnya. Kemudian aku langsung saja ke arah kamar kosnya. Pintunya tidak tertutup, maka langsung saja aku memberi salam. “Assalamualaikum” ucapku memberi salam. “Waalaikumsalam, eh Handry. Ayo sini masuk” jawab Dodi membalas salam dan mempersilahkan aku masuk kamarnya.

“Abis dari mana lu ndry?” “Biasa Dod, abis nongkrong di depan kampus bareng kawan gw” “Oouh.., ah ga ngajak-ngajak nih” “dikirain lu sibuk, mkanya gak gua sms elunya”.

Aku dan Dodi berbasa-basi sambil mata kami menonton televisi yang sedari aku belum datang, Dodi sedang menontonnya. Sesekali kami merespon tayangan di tivi dengan opini atau komentar kami yang mendekati jenius. Karena kejeniusan kami, maka kami hanya menjadi pengamat berita saja, itu pun di lingkup kosan. Kebiasaan seperti ini seringkali muncul di kosan Dodi yang memberikan banyak warnadalam pergaulan kami dengan teman kelas yang lainnya. Di sini, diskusi ringan dan bebas kerap ditunjukkan oleh kami. Namun, dalam hitungan menit suasana akan berubah ketika aku mengatakan, “Dod, punya duit gak? Gua minjem sedikitlah”.

Tebakkanku kali ini tidak meleset dari perkiraan. Kali ini Dodi berkata sedang dalam posisi tidak memiliki uang. Bahkan dia pun berupaya untuk meyakinkan bahwa aku dan dia dalam keadaan yang senasib sepenanggungan. Dan Dodi pun merasa pusing dengan keadaannya itu. Dodi dengan berujar kepadaku, dia baru akan meminjam uang pada temannya besok. Itupun tidak pasti katanya.

Merasa kenyataan hari ini pahit, akhirnya aku bertanya kepadanya. “Dod, kira-kira siapa yang bisa minjemi duit sama gua yaa” tanyaku dengan wajah pucat pasi. Beberapa nama teman dikelas pun disebutkan olehnya. Nama-nama mereka yang disebutkan Dodi adalah mereka yang memiliki keadaan finansial yang sehat. “Ndry mending lu coba minjem ke si Dewi aja, mana tau dia mau minjemin” jawab Dodi mengarahkan aku pada salah satu kawan di kelas. Menanggapi sarannya yang mungkin bisa diterima oleh akal, aku menimbang-nimbang ide itu. Yup, dulu aku pun pernah meminjam uang padanya dan dia juga wanita yang cukup ramah.

Dirasakan olehku saran Dodi sangat mungkin untuk menghasilkan yang diharapkan, maka tidak ada salahnya bagiku mencoba. “Mungkin ini jawaban untuk problem hari ini” pikirku dalam angan. Tidak butuh waktu lama dan tidak perlu membuang waktu terlalu banyak aku pun bersiap untuk menuju kosan Dewi.

Kosan Dewi tidak jauh dari kosan Dodi. Kosan Dewi berada di seberang jalan raya, tepatnya di belakang mini market di sekitar kampus. Dia berasal dari Sumatera Utara dan menurut sepengetahuanku dia orangnya cukup baik. Karena alasan itu pula aku mau memberanikan diri mencoba meminjam uang kepadanya. Oh iya, walaupun Dewi itu berasal dari Sumut tetapi Dewi itu bersuku jawa. Orangtua dan kakek neneknya sudah lama menetap di Sumatera Utara dan semenjak itu mereka tidak pernah lagi pulang ke Pulau Jawa.

Sama halnya dengan Dodi, kamar kost Dewi bertingkat dua dan kebetulan kamar Dewi ada di lantai dua paling pojok. Hanya bedanya, kosan Dewi lebih mahal dan tentunya lebih bagus kondisinya. Suasananya cukup nyaman namun menurut kabar yang beredar kosan yang dihuni Dewi ini tidak aman.

Aku naiki saja anak tangganya perlahan-lahan agar suara langkah kakiku tidak terlalu berisik. Setelah itu aku bergegas melewati lorong gelap yang panjangnya hanya beberapa meter saja. Sebelum kamar Dewi aku melewati dua kamar, satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri. “jadi atau jangan yaah gua minjem duit, kok gua mendadak ragu” kataku dengan perasaan yang tidak enak. Namun sudah terlanjur berada di tempatnya maka mundur adalah pilihan untuk mati. “tok tok tok, Assalamualaikum.. Dewi..” aku mengetok pintu sambil mengucap salam dan memanggil namanya. “Waalaikumsalam, siapa?” sahutnya dengan nada khas melayu yang enak di dengar. “Ini gua Handry Lumban wi, gua ada perlu sebentar nih” balasku lagi. Dan wow, akhirnya pintunya dibuka, kini aku bingung dari mana harus memulai perkataan. “Tuhan bantu aku saat ini”. Aku mengeluh lirih dalam hati.


Nampaklah wajah Dewi dengan senyum kecilnya namun terheran dengan kedatanganku yang tidak biasanya. Ketahuilah, apa yang aku lihat kini, mengingatkan aku pada rasa dimana aku memperhatikannya di semester-semester lampau. Dimana aku merasa wanita ini sama sekali tidak suka mencari gara-gara. Lalu aku menyukai segala kesederhanaan yang dimilikinya. Baik sebagai teman atau... “oh, nggak, nggak.. itu gak mungkinlah” kataku menepis pikiran yang tidak seharusnya aku pikirkan.

Memang harus aku akui aku pernah ingin mencoba dekat dengannya namun aku belum mencobanya dengan sangat baik. Aku berpikir, suatu ketika nanti mungkin akan ada waktu bagi kami untuk berbicara jauh tentang Sumut atau hal yang lainnya. Meskipun keinginan yang pernah ada waktu dulu sudah tidak ada lagi, namun canggung masih melekat di dada ini. Tapi kembali ketujuanku, kini hanya satu harapanku yakni mendapatkan pinjaman uang darinya. Dan sampai akhirnya, akupun dipersilahkan masuk ke dalam kamarnya. Aku dipersilahkan masuk dengan cukup ramah. Walau aku merasa dia sudah bisa menebak maksud kedatanganku ke tempatnya adalah karena butuh sesuatu darinya.

Sungguh tidak aku bayangkan, harga diri ini sudah sedikit berkurang dibanding saat permasalahan duit tidak separah saat ini, “Dewi elu bisa kan ngobrol sama gua?” “begini wi gua ada yang mau diobrolin nih”.

“mau ngobrol apa nih emangnya?” balasnya kembali bertanya.

Sambil menahan malu, dengan berbelit dan kalimat yang tertahan di ujung lidah aku memberanikan diri untuk berbicara jujur.

“Dedew lu punya duit yang bisa di pinjemin gak sama gue, coz gue lagi butuh banget nih. Minggu depan pasti gua ganti koq, lu tenang aje, percaya deh sama gua” ujarku dengan untaian kata menghiba.

Sambil ku mencuri-curi pandang kepadanya, aku menebak-nebak apakah dia akan memberikan aku pinjaman uang atau tidak. “Oh Dewi gua mohon buat kali ini aja. Sambungkanlah hariku” ucapku dalam hati. Bersambung...

Selasa, 11 Agustus 2015

Meski Banyak Ditentang


Karya Handry Lumban Purba

Bekasi 21 Januari 2015

Keajaiban tak kan pernah habis
Meski nanti aku menjadi pudar
Pedomanku tak kan pernah usang
Meski akan banyak di tentang

Dan sesungguhnya kau kan tahu
Kebenaran dalam waktu yang dekat
Tidakkah kau menyaksikan semua
Jaman berubah begitu buasnya

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan

Segala yang membentuk hidupku ini
Selalu aku syukuri
Cukuplah Tuhan yang menjadi
Penolongku yang nyata

Tatapan kalian akan menjadi pacuan
Ucapan kalian ku anggap sebagai sanjungan
Perbuatan kalian tersimpan dalam ingatan
Akan aku nikmati sampai suatu masa nanti

KUIB Parade Tauhid Di Car Free Day

Parade: Kongres Umat Islam Bekasi lakukan parade Tauhid perdana di  lokasi Car Free Day(CFD).
Mereka menyuarakan penolakan pembangunan Gereja Santa Clara di Kecamatan Bekasi Utara.

BEKASI SELATAN, MEDIASI- Kongres Umat Islam Bekasi(KUIB) lakukan parade tauhid pada minggu 9 agustus 2015. Parade itu berlangsung di lokasi Car Free Day(CFD) jl. Ahmad Yani, Bekasi Selatan. KUIB itu sendiri merupakan gabungan dari berbagai ormas Islam dan para ulama yang ada di Kota Bekasi.

Dengan mengenakan busana muslim dominan warna putih, KUIB seketika jadi pusat perhatian khalayak ramai. Diperkirakan anggota KUIB yang turun ke jalan berjumlah ratusan orang. Mereka terdiri dari pria dan perempuan dewasa, serta anak-anak dan para remaja.

Parade Tauhid itu dimulai kurang dari pukul 9.00 WIB. Dengan membawa sejumlah bendera bertuliskan aksara arab, mereka membentuk dua barisan terpisah. Barisan terdepan untuk para pria dan diikuti para perempuan dibarisan berikutnya.

Mereka yang tergabung dalam KUIB kemudian berjalan mengelilingi jalanan lokasi CFD. Parade dipimpin oleh beberapa kordinator yang naik di atas mobil bak. Dalam parade itu, beberapa ustad menyuarakan maksud dan tujuan parade tersebut.

“Kami para ormas-ormas  Islam yang tergabung dalam KUIB menginginkan Kota Bekasi jadi kota ihsan yang bertauhid,” kata Ustadz Nanang, minggu(9/8).

Di atas mobil Ustadz Nanang menyerukan, umat Islam Kota Bekasi harus bersatu menegakkan syariat agama. Ustadz Nanang mengajak para warga yang hadir mendukung upaya mereka dalam mewujudkan Kota Bekasi sebagai kota ihsan yang bertauhid.

“Besok senin, di Islamic Center sekitar pukul 7 pagi, kita akan bertemu Pak Walikota RahmatEffendi. Kita akan sampaikan keinginan kita. Sehingga bisa melahirkan perda-perda yang tak melanggar syariat,” ungkapnya melalui alat pengeras suara.

Ketua KUIB BernardAbdul Jabar menjelaskan, tujuan KUIB merupakan upaya mengantisipasi maraknya pembangunan tempat peribadatan liar tak berijin. Kemudian mengantisipasi ancaman bahaya aliran-aliran sesat.

“Lebih detail tujuannya adalah mengantisipasi pembangunan rumah ibadah liar dan aliran-aliran sesat. Kemudian menghilangkan kemaksiatan, seperti judi dan miras,” ungkap UstadBernard.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, KUIB menghendaki jajaran Pemerintahan Kota(Pemkot) Bekasi segera membuat larangan terkait segala macam bentuk kemaksiatan. Dirinya berharap syiar parade tauhid  membuka peluang Kota Bekasi bisa menjadi kota ihsan yang bertauhid. Kemudian Walikota dituntut tegas dan segera mencabut izin pembangunan Gereja Santa Clara di Kecamatan Bekasi Utara.


“Yang menjadi harapan kita adalah, mewujudkan Kota Bekasi ihsan yang bertauhid. Hal itu sesuai dengan apa yang sudah sepakati dalam kongres umat Islam Bekasi. Dan kami ingin Pak Walikota mencabut ijin pembangunan Gereja Santa Clara di Bekasi Utara” ungkap Ustadz yang juga Ketua Federasi Anti Pemurtadan Bekasi(FAPB). (HLP)

Minggu, 02 Agustus 2015

Lebih Pilih Main Burung Ketimbang Game Online



BANTARGEBANG, MEDIASI- Tak semua anak usia pelajar baik SD, SMP maupun SMA gemar habiskan waktu main di Warung Internet(Warnet). Seperti Diki, Yoga, Rizki dan Adit, mereka lebih memilih waktu bermain dengan burung dara ketimbang game online. Menurut Diki pelajar kelas 5 SD, bermain burung dara sangat mengasikkan.

“Burung dara kalau udah giring, bisa diterbangin ditempat jauh. Tapi burungnya nanti bakalan balik lagi ke kandangnya,” kata Diki Kurniawan, jumat(31/7).

Baginya keseruan main dengan binatang peliharaan berbeda dengan main game di warnet. Meski Diki tak bisa menjelaskan alasan perbedaan keseruan bermain dengan burung dara. Namun dirinya senang jika burung daranya mampu terbang lebih tinggi dan cepat daripada burung dara milik teman-temannya.

“Diantara kita semua, burung dara saya yang paling giring. Burung jantannya gesit tapi saya belum berani terbangin dari jarak jauh,” ungkapnya.

Sedangkan Rizki mengatakan, bermain burung dara jelas lebih seru dari main warnet. Sebab dirinya memang dilarang bermain game online oleh orangtuanya. Dikatakannya terlalu banyak bermain game di warnet jadi tak bisa menabung dan jadi boros.

“Malas main game online takut ketagihan. Kalau ketagihan nanti boros terus saya jadi gak punya tabungan,” tutur Rizki yang merupakan pelajar kelas 2 SMP.

Bagi Rizki dan Diki, memelihara burung dara cukup mudah. Yang sulit hanya membuat kandang burungnya. Semua kandang burung milik mereka dibuatkan oleh orangtua mereka masing-masing.


“Kandang burung saya dari peti telur. Petinya dibikinin pintu sama dikasih atap biar kalau ada hujan gak bocor,” kata Rizki.

Selepas memberi makan burung dara tersebut, mereka melakukan permainan. Yakni lomba balap burung dara jarak dekat. Tampak Rizki dan Adit memegangi burung dara betina. Dan sekitar jarak 100 meter Diki memegang dua burung jantan.

Dengan tiga hitungan kedua burung jantan dilepaskan. Kedua burung tersebut terbang beradu cepat menuju betinanya masing-masing. Beberapa kali latihan lomba itu dilakukan, burung dara milik Diki menjadi juaranya.

“Burung saya mah udah lama giring. Kalau burung si Rizki belum terlalu giring,” kata Diki senang.


Diakui Diki, dirinya memiliki dua pasang burung dara. Dan sepasang burungnya telah menghasilkan satu anak burung dara. Dirinya berharap burungnya bisa berkembang biak dengan cepat. Agar jumlahnya bertambah banyak dan bisa dijual kepada teman-temannya. (HLP)

Senin, 06 Juli 2015

Curug Bantargebang Mulai Ramai Dikunjungi


BANTARGEBANG, MEDIASI- Meski namanya sempat dilupakan, kini Curug Bantargebang mulai ramai dikunjungi banyak orang. Bentuk Curug Bantargebang memang tak setinggi curug lainnya di Jawa Barat. Namun area tersebut cukup berpotensi sebagai taman wisata masyarakat. Tak jarang orang sengaja datang ke curug itu hanya sekedar melepas penat.

Heri dan Nenah pengunjung dari Cinyosog, Cileungsi mengatakan mereka sengaja datang untuk mencari suasana segar. Heri mengaku baru dua kali berkunjung ke lokasi tersebut. Menurutnya Curug Bantargebang memiliki potensi bagus untuk masyarakat.

“Saya tahu curug ini dari teman saya. Tadinya saya gak percaya kalau di Bantargebang ada curug. Tapi ternyata tempatnya tenang dan segar,” ungkap Heri di Curug Bantargebang kelurahan Cikiwul, jumat(3/7).

Heri dan Nenah yang berprofesi sebagai karyawan pabrik itu mengungkapkan, jika area sekitar ditata dan dikelola tentu akan menjadi lebih bagus. Terutama masalah kebersihan yang dinilainya sangat tak terawat. Lalu area curug disediakan tempat kuliner agar pengunjung bisa bersantai.

“Lokasi tepi sungai yang ada rumputnya asyik buat nongkrong. Kalau bersih pasti lebih nyaman. Nah kalau udah bersih baru dibuat semacam saung yang berjualan kuliner,” saran Heri.

Menurutnya lokasi Curug Bantargebang tak sulit dicari dan ditempuh dari jalan raya narogong. Hanya saja dirinya bingung untuk menyebut nama curug tersebut. Sebab Heri mengenal curug tersebut dengan nama Curug Pangkalan Lima.

“Saya sih gak tau nama curug ini yang bener. Saya tahunya curug ini bernama Curug Pangkalan Lima,” ungkapnya.

Ditempat terpisah Bapak Kasim seorang warga pribumi membeberkan bahwa curug itu bernama Curug Parigi. Namun pengunjung dari luar memang lebih akrab menyebut dengan nama Curug Bantargebang. Dikatakan Curug Parigi, karena dahulu area sungai terjadi retakan akibat penambangan batu secara besar-besaran.

“Parigi itu artinya pecahan atau retakan. Dahulu sungai tak ada curugnya. Tapi semenjak dilakukan penambangan batu secara besar-besaran, sungai mengalami retakan. Dan membentuk curug seperti sekarang ini,” tutur Bapak Kasim warga setempat.

Kasim pun membeberkan bahwa lokasi curug kini kepemilikannya telah beralih ke seorang bos sebuah perusahaan baja. Dirinya berharap agar pabrik atau gudang yang hendak dibangun disekitar curug bisa menyisihkan sedikit lahan. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat tetap memiliki lokasi wisata.


“Tanah sekitar curug seluas 30 hektar sudah jadi milik perusahaan. Rencananya habis lebaran akan mulai dibangun. Semoga perusahaan berbaik hati menyediakan sedikit lahan untuk Curug Parigi Bantargebang,” ungkap Kasim berharap.

Kamis, 02 Juli 2015

7 Lagu Tentang Sahabat Paling Populer Di Indonesia

Setiap pertemuan tentu ada perpisahan. Dan setiap pertemuan pasti memiliki cerita maupun kisah yang melekat dihati dan pikiran kita. Terutama jika kisah itu menyangkut dan berkaitan dengan sahabat. Kisah bersama sahabat biasanya dilalui dengan suka duka maupun tangis dan tawa. Dan semua itu terangkum dalam benak kita. Mungkin akan sangat sulit dilupakan meski telah terpisah jarak dan susah untuk berjumpa kembali.

Ada beberapa lagu bertemakan sahabat yang dikemas baik oleh pencipta lagu maupun penyanyinya. Tak sedikit lagu bertemakan sahabat menjadi lagu yang segar, dan pengobat kerinduan dalam hati saat mengenang sahabat. Lagu bisa jadi perwakilan pesan yang hendak disampaikan oleh pendengar musik kepada seseorang. Termasuk pesan positif kepada sahabat yang pernah berada di lingkaran hidup kita.

Berikut 7 lagu bertemakan sahabat yang sering di dengar oleh banyak orang di Indonesia:

7. Untuk Sahabat – Audy ft Nindi


Lagu yang diciptakan Eross Chandra ini dikemas dengan menarik. Lirik yang menunjukkan peran sahabat begitu berarti bagi seorang yang terluka karena sesuatu. Lagu ciptaan Eross semakin mengena karena dinyanyikan oleh Audy dan Nindi. Mendengar lagu ini membuat kita mengingat arti sahabat saat kita dirundung duka dan masalah.

6. Arti Sahabat – Nidji


Lagu yang dibawakan oleh band Nidji ini menceritakan tentang arti sebuah persahabatan. Menjelaskan makna ketegaran sahabat dalam bergaul bersama kita. Seakan lagu ini membuat yakin kita semua, bersama sahabat semua masalah akan terasa ringan.

5. Ingatlah Hari Ini – Project Pop


Lirik dalam lagu ini dikemas dengan cara unik dan kocak. Dibawakan pula dengan gaya candaan. Namun lagu ini bisa membuat kita merasa terhibur dengan kisah lalu yang mesti dikenang. Tentunya pengalaman berarti bersama para sahabat yang akan terus terkenang hingga tua dan hidup masing-masing.

4. Sahabat Terhebat – Handry Lumban Purba


Dari judulnya sudah bisa dicerna, lagu tersebut bercerita tentang sahabat. Lirik yang ditulis Handry dikemas dengan ringan dan santai. Pesan yang disampaikan adalah bagaimana kita menyimpan jasa para sahabat di dalah hati kita. Dan mengajak para pendengar lagu untuk merindukan saat-saat indah masa lalu. Jika sulit bertemu kembali dengan sahabat lama, maka jadikan pengalaman manis sebagai kenangan di hari tua.

3. Sebuah Kisah Klasik – Sheila On 7


Eross Chandra memang piawai dalam membuat lagu. Lirik pada lagu ini sangat menyentuh hati terdalam kita. Lagu ini bercerita tentang sebuah perpisahan beberapa sahabat. Dan kelak mungkin sulit berjumpa lagi. Meski sebenarnya kita tak ingin berpisah dengan para sahabat. Namun karena keadaan maka kita berpisah untuk melanjutkan hidup masing-masing.

2. Selamat Jalan – Tipe-X


Ditinggalkan oleh sahabat untuk selamanya memang menyedihkan. Lagu selamat jalan dari band Ska asal Jogja ini memang dikemas sendu. Lirik lagu menyiratkan kesedihan yang teramat dalam bagi seseorang yang ditinggalkan sahabatnya. Sahabat terbaik meninggal dan harus direlakan kepergiannya. Hanya menyisakan ucapan selamat jalan.

1.    Sahabat Sejati – Sheila On 7


Kembali Eross menjadi yang paling mahir dalam merangkai kata bertemakan sahabat. Dalam lagu ini Eross menuliskan lirik yang hebat. Dan aransemen musik yang menimbulkan efek semangat. Menceritakan bagaimana kita hidup lebih bergairah bersama sahabat. Mengkisahkan sebuah makna persahabatan yang tak ternilai dengan materi. Saling bahu-membahu dan belajar untuk saling berbagi. Lagu sahabat sejati yang dibawakan oleh Sheila On 7 menjadi lagu bertema sahabat paling digemari oleh remaja Indonesia.

Sekian 7 lagu tentang sahabat paling populer di Indonesia versi Mediasi.


Penulis: HLP

Rabu, 01 Juli 2015

Siswa SD Tunggu Kepastian Hasil PPDB Online


BANTARGEBANG, MEDIASI- Siswa pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru(PPDB) Online pada senin 29 juni 2015 tampak semangat mengikuti perkembangan hasil terkini. Sekelompok siswa dan siswi Sekolah Dasar Negeri(SDN) Bantargebang 3 terlihat berkumpul di gedung sekolah. Mereka datang demi menunggu kepastian hasil PPDB Online.

Pergeseran nilai siswa masih terus berubah dan mengalami ketidakpastian. Namun persaingan nilai jelang hari akhir penutupan PPDB Online jalur umum tak sesengit hari pembukaan pendaftaran. Anggi peserta PPDB mengatakan beberapa temannya sudah terlempar dari persaingan masuk ke Sekolah Menengah Pertama Negeri(SMPN) 8 Bekasi.

“Yang kumpul di sini nilainya masih bertahan. Tapi urutannya bergeser terus. Beberapa temen udah ada yang gagal masuk SMPN 8,” ungkap Anggi di SDN Bantargebang 3, senin(29/6).

Anggi berharap, dirinya dan beberapa temannya yang masih mengikuti PPDB online bisa bertahan dan tak tergeser oleh siswa dari sekolah lain. Dirinya tak memungkiri, bayang kegagalan masih membuatnya risih. Namun dirinya optimis bisa masuk ke SMP dengan label negeri.

“Senang banget rasanya kalau masuk di negeri. Soalnya bisa meringankan beban orangtua. Kata bapak saya kalau di swasta biayanya mahal dan banyak pengeluaran,” tutur Anggi.

Tapi Anggi dan semua temannya mengatakan jika memang harus gagal mereka enggan mengikuti PPDB jalur lokal atau zonasi. Sebab di wilayah Kecamatan Bantargebang hanya SMPN 27 Bekasi saja SMP label negeri yang cukup dikenal. Dan jarak sekolah tersebut dianggap jauh dan aksesnya tergolong sulit dari tempat tinggal Anggi dan para temannya.

“SMPN 27 jauh, angkotnya juga lumayan jarang. Paling kalau gagal mending masuk swasta yang deket dan bisa jalan kaki. Jadi uang ongkos naik angkot buat bayar sekolah di swasta,” kata Anggi yang disambut tawa temannya.

Kepala Sekolah(Kepsek) Lilis Sutarmi mengatakan murid yang minta bantuan pihak sekolah hanya berjumlah 25 siswa. Kemungkinan, siswanya yang lain ada yang tetap mendaftar secara pribadi atau langsung konsultasi ke SMP tujuan. Bantuan yang diberikan hanya bersifat konsultasi di awal pendaftaran. Kemudian pemantauan perkembangan terkini mengenai pergeseran urutan siswa sesuai nem.

“Sekolah hanya bisa beri bantuan konsultasi. Itu semacam strategi, penyesuaian nilai terhadap peluang yang lebih besar masuk SMPN. Hal itu dilihat dari nem siswa yang tak terlalu besar tapi tetap ingin bisa masuk SMP negeri,” ungkap Lilis.

Namun jika memang tak bisa masuk negeri, Lilis berharap siswanya tak perlu berkecil hati. Sebab masuk SMP swasta pun ada hak-hak bagi siswa yang kurang mampu. Sehingga menurutnya kemungkinan siswanya yang belum beruntung di PPDB jalur umum tak harus mengikuti PPDB jalur lokal atau zonasi.


“Jika siswa mengikuti zonasi, sudah pasti mendaftar ke SMP 27. Bantargebang kan hanya SMPN 27 dan SMP 31 saja. Kasihan anak-anak, jaraknya kejauhan, mending ke swasta saja. Buat yang tak mampu kan ada hak-hak yang harus dipenuhi pihak sekolah,” tambahnya.

Komunitas Pinggir Kontrakan

Komunitas Pinggir Kontrakan
K.P.K

Keripik Daun Melinjo

Keripik Daun Melinjo
Khas Bekasi